ADA JOGJA DI MATAMU : ISTIMEWA [MUKADIMAH]



Jogja bagi saya merupakan gambaran dari kemewahan yang tersederhanakan, menjelma dalam sebuah pribadi manusia, merasuk dalam tutur kata, dan menghampar dalam setiap tempat. Mirip seperti Purwokerto, Bandung, dan Bali, semua punya raga yang istimewa. Namun tidak ada dia, yang disela-sela matanya ada Jogja.

Di Jogja ada sayyidan dengan kehangatan ceritanya, ada UGM, ISI, dan UNY punya kamu dengan segala raga dan jiwamu. Dari segala pelik cerita pada jogja dari masa kerajaan hingga hari ini, aku lebih tertarik mengintaimu dari balik jejaring sosial mediaku. Semenarik itu aku mempelajarimu, walau waktu tak pernah membujuk kita untuk bertemu.

Lembaran puisi telah tersusun rapi didalam berangkas catatan memoku, memenuhi list bulanan yang terkadang tak pernah terlaksana, licah sekali jemari ini menggambarkanmu lewat buliran kata-kata singkat, tanpa tersisip namanu, tapi aku tau tulisan itu aku tujukan padamu. Berangkas itu kali ini aku tuangkan pada lembaran-lembaran sisipan blog pribadiku.

Menafsirkan keindahanmu tak cukup hanya satu kata “cantik”. Lebih dari ini puisi menurutku jauh lebih mewah dari pada hanya memberi bunga satu tangkai yang bisa layu kapan saja. Namun puisi takan pernah layu, dia abadi. Bahkan puluhan generasi, dia akan tetap terkenang jelas dari potongan-potongan kata rayu aku buat untukmu.

Setiap kata mambawaku pada waktu separuh sadar aku menyukaimu. Kali ini aku ceritakan setiap puisi tentangmu, romantisme sederhana untuk aku menggambarkanmu. Aku tegaskan kembali bahwa catatan ini bukan kumpulan lembar dari cerita yang runtut, bukan seperti novel-novel dengan cerita utuh, setengah ada padamu.

Komentar