Postingan

ADA JOGJA DI MATAMU : ISTIMEWA [MUKADIMAH]

Gambar
Jogja bagi saya merupakan gambaran dari kemewahan yang tersederhanakan, menjelma dalam sebuah pribadi manusia, merasuk dalam tutur kata, dan menghampar dalam setiap tempat. Mirip seperti Purwokerto, Bandung, dan Bali, semua punya raga yang istimewa. Namun tidak ada dia, yang disela-sela matanya ada Jogja. Di Jogja ada sayyidan dengan kehangatan ceritanya, ada UGM, ISI, dan UNY punya kamu dengan segala raga dan jiwamu. Dari segala pelik cerita pada jogja dari masa kerajaan hingga hari ini, aku lebih tertarik mengintaimu dari balik jejaring sosial mediaku. Semenarik itu aku mempelajarimu, walau waktu tak pernah membujuk kita untuk bertemu. Lembaran puisi telah tersusun rapi didalam berangkas catatan memoku, memenuhi list bulanan yang terkadang tak pernah terlaksana, licah sekali jemari ini menggambarkanmu lewat buliran kata-kata singkat, tanpa tersisip namanu, tapi aku tau tulisan itu aku tujukan padamu. Berangkas itu kali ini aku tuangkan pada lembaran-lembaran sisipan blog pribadiku. M...

SEBENTAR SAYA JELASKAN

Gambar
  Sebentar saya jelaskan tentang foto diatas, apakah saudara sekalian percaya dengan foto tersebut? Maksudnya dengan foto para personil the Beatles dan saya ada pada satu foto yang sama. Tentu saudara tidak percaya pastinya, biarkan saya menjelaskan ini. Foto itu bukan sebuah editan, "itu yang saya mau, dalam imajinasi saya berbicara seperti itu". Apakah salah? Ohhh tentu tidak, ini soal bagian dari laman saya bercerita dan ekspresi untuk saya tuangkan, tentu terserah saya dan kalian cukup menduga-duga saja. Saya sangat suka sekali dengan band ini, hampir setiap album saya selalu dengar musik-musik mereka, sungguh menakjubkan lagu-lagu yang mereka buat, rasanya tak pernah habis dimakan zaman. Dengan berbagai musik pendatang baru yang saya dengarkan saya selalu merasa harus kembali ke musik-musik lama. Saya suka the Beatles bukan berarti saya tidak suka lagu-lagu Indonesia zaman dulu. "Banyak yang saya suka termasuk kamu" saya juga suka lagu-lagu keroncong, begitu be...

TAK AKU BERI JUDUL

Gambar
  gitarku sudah mulai jelek suaranya. atau gitarku sudah mulai usang ? usang dimakan waktu.   aku rasa belum, kayu ini cukup kuat. walaupun diserang ribuan rayap. aku cukup lihai merawatnya. jadi tak ada rayap atau hewan lain yg bisa menyentuhnya.   aku lupa sudah lima bulan kurang aku belum mengganti senar gitarku. aku hanya butuh senar baru untuk menggantinya. aku kira masih sama rasanya pada saat awalku beli, merdu.

SEPERTI ITU NONA ADA

Gambar
  Nona, yang mewarnai melati itu, putih tiada noda. Tiada sapa, senyum, pun tawa. Seperti nona, dingin, ku tau lewat ribuan malam-malam purnama. Dan memang seperti itu nona ada. Entah kenapa. Aku-pun kagum, pada sesekali gelak tawanya. Meledak-ledak cantik dan menawan. Dan disaat itu-pun nona ada. Ada, tetapi tidak denganku. Dan mungkin bualan kata-kata ini. Gambaran dari kebahagiaanmu, tidak denganku. Penuh renungan dan ribuan ikhlas. Dipetiknya melati itu Tentang puisi ini : -

SEMACAM MEMBUJUK MALAM UNTUK TERLIHAT TERANG [BAIT 2]

Gambar
hey nona, aku yang suka padamu. telahku tau namamu. dari teman dekat sepantaranmu itu. kau perempuan yang aku lihat waktu itu. waktu, waktu siang kemarau lalu. bukan waktu yang lama. hanya sempat sapa dan bertukar lagu. sekutip kata singkat dan rindu. hey nona, aku terlalu egois. tak mau berbagi rasa. aku hanya butuh ini tertata rapih. mungkin hanya itu nona, tentang sekutip rindu dan kata.

SEMACAM MEMBUJUK MALAM UNTUK TERLIHAT TERANG [BAIT 1]

Gambar
  hey nona, siapakah perempuan itu. perempuan dengan senyum manis itu. bolehkah aku mengenalnya. hanya sebatas mengenal nama. aku tak mau langsung berjumpa. naluriku berkata dia adalah teman sepantaranmu. bolehkah aku mengenalnya nona. aku terlalu buruk jika harus datang membawa seribu rayuan, aku malu. bolehkah aku mengenalnya nona? akan ku bawakan setumpuk bunga untuknya. bukan besok atau nanti. mungkin suatu saat, hanya saja rasa ini aku simpan dalam hati.

SI KECIL

Gambar
Si kecil itu yang hobi bermain layang-layang dan mancing sesekali, sekarang hidupnya sudah tak bahagia lagi, banyak cerita-cerita yang tidak bisa disampaikan "laki-laki tidak bercerita", sikecil itu hari ini hanya ingin menulis tidak dengan beban yang dimiliki. Si kecil yang suka bermain itu tumbuhnya tidak begitu terasa lambat, tapi begitu cepat. Terakhir si kecil mengingat memori bahagianya di sepuluh tahun yang lalu, "lalu apakah setelah itu sudah tidak bahagia?", tentu masih. Dia happy walaupun berkurang setiap tahunnya, rasanya seperti ban mobil yang kempes, "menyusut seiring waktu" ya begitulah sikecil dengan segala senyum dan tawanya, bukan yang lain dari hal itu. Si kecil dia tidak suka mengarang cerita, setiap ceritanya nyata hanya saja kadang latar dan tokohnya berganti-ganti, bukan dongen dan bukan cerita asli, hanya samar.

LORONG-LORONG KECIL

Gambar
oleh Robiansyah Ashari (2018) Lorong-lorong kecil. Tempat sembunyi kerdil. Kumuh dan kotor. Jadi sarang koruptor. Lorong-lorong kecil. Suasana luka tanpa sebab. Dibuatlah kancil. Pintar akan selimut bijaksana. Lorong-lorong kecil. Teriak gema ditelinga. Dengan sunyi rindu. Akan negriku dahulu. Tentang puisi ini : Puisi ini saya temukan disebuah buku lama,buku yang sudah sangat usang dan berdebu. setelah saya ingat-ingat buku itu milik saya waktu masih menginjak bangku sekolah menengah pertama tertera pada lembar kertas itu terdapat tanda tahun diujung bawah dan belum berjudul.