Postingan

SEPERTI ITU NONA ADA

Gambar
  Nona, yang mewarnai melati itu, putih tiada noda. Tiada sapa, senyum, pun tawa. Seperti nona, dingin, ku tau lewat ribuan malam-malam purnama. Dan memang seperti itu nona ada. Entah kenapa. Aku-pun kagum, pada sesekali gelak tawanya. Meledak-ledak cantik dan menawan. Dan disaat itu-pun nona ada. Ada, tetapi tidak denganku. Dan mungkin bualan kata-kata ini. Gambaran dari kebahagiaanmu, tidak denganku. Penuh renungan dan ribuan ikhlas. Dipetiknya melati itu Tentang puisi ini : -

SEMACAM MEMBUJUK MALAM UNTUK TERLIHAT TERANG [BAIT 2]

Gambar
hey nona, aku yang suka padamu. telahku tau namamu. dari teman dekat sepantaranmu itu. kau perempuan yang aku lihat waktu itu. waktu, waktu siang kemarau lalu. bukan waktu yang lama. hanya sempat sapa dan bertukar lagu. sekutip kata singkat dan rindu. hey nona, aku terlalu egois. tak mau berbagi rasa. aku hanya butuh ini tertata rapih. mungkin hanya itu nona, tentang sekutip rindu dan kata.

SEMACAM MEMBUJUK MALAM UNTUK TERLIHAT TERANG [BAIT 1]

Gambar
  hey nona, siapakah perempuan itu. perempuan dengan senyum manis itu. bolehkah aku mengenalnya. hanya sebatas mengenal nama. aku tak mau langsung berjumpa. naluriku berkata dia adalah teman sepantaranmu. bolehkah aku mengenalnya nona. aku terlalu buruk jika harus datang membawa seribu rayuan, aku malu. bolehkah aku mengenalnya nona? akan ku bawakan setumpuk bunga untuknya. bukan besok atau nanti. mungkin suatu saat, hanya saja rasa ini aku simpan dalam hati.

SI KECIL

Gambar
Si kecil itu yang hobi bermain layang-layang dan mancing sesekali, sekarang hidupnya sudah tak bahagia lagi, banyak cerita-cerita yang tidak bisa disampaikan "laki-laki tidak bercerita", sikecil itu hari ini hanya ingin menulis tidak dengan beban yang dimiliki. Si kecil yang suka bermain itu tumbuhnya tidak begitu terasa lambat, tapi begitu cepat. Terakhir si kecil mengingat memori bahagianya di sepuluh tahun yang lalu, "lalu apakah setelah itu sudah tidak bahagia?", tentu masih. Dia happy walaupun berkurang setiap tahunnya, rasanya seperti ban mobil yang kempes, "menyusut seiring waktu" ya begitulah sikecil dengan segala senyum dan tawanya, bukan yang lain dari hal itu. Si kecil dia tidak suka mengarang cerita, setiap ceritanya nyata hanya saja kadang latar dan tokohnya berganti-ganti, bukan dongen dan bukan cerita asli, hanya samar.

LORONG-LORONG KECIL

Gambar
oleh Robiansyah Ashari (2018) Lorong-lorong kecil. Tempat sembunyi kerdil. Kumuh dan kotor. Jadi sarang koruptor. Lorong-lorong kecil. Suasana luka tanpa sebab. Dibuatlah kancil. Pintar akan selimut bijaksana. Lorong-lorong kecil. Teriak gema ditelinga. Dengan sunyi rindu. Akan negriku dahulu. Tentang puisi ini : Puisi ini saya temukan disebuah buku lama,buku yang sudah sangat usang dan berdebu. setelah saya ingat-ingat buku itu milik saya waktu masih menginjak bangku sekolah menengah pertama tertera pada lembar kertas itu terdapat tanda tahun diujung bawah dan belum berjudul.